ANTARANEWS86.com_, TOBA, Menjelang akhir tahun 2025, Kabupaten Toba dihadapkan pada sebuah refleksi yang tidak ringan: terjadinya fluktuasi drastis angka kunjungan wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Toba. Menurut data yang dikumpulkan penulis dari berbagai sumber menunjukkan gambaran yang kontras. Tahun 2022 mencatat sekitar 1 juta wisatawan berkunjung ke Kabupaten Toba, lalu melonjak tajam pada 2023 menjadi 2.079.365 orang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun euforia itu menukik tajam pada tahun 2024, ketika jumlah kunjungan terjun bebas menjadi hanya 673.587 orang. Tahun 2025 pun diperhitungkan dengan harapan yang jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2023 yakni sekadar menembus angka 700 ribuan pengunjung. Jika mengacu pada angka-angka yang bukan sekadar statistik ini; kondisi ini adalah cermin yang memantulkan kegelisahan mendalam buat kita semua.
Penurunan drastis dari lebih dua juta wisatawan pada tahun 2023 ke sekitar enam ratus ribu pada tahun 2024 menimbulkan pertanyaan besar: apa yang sesungguhnya terjadi?
Selama ini, Kabupaten Toba telah melakukan banyak event dengan dana yang tidak sedikit. Demikian juga kehadiran event-event internasional sebagai pemantik kunjungan wisatawan, seperti F1H2O dan International Aquabike. Namun kenyataan menunjukkan bahwa kehadiran event-event yang menghabiskan dana yang tidak sedikit itu, serta keberadaan event besar itu, tampaknya tidak otomatis menjamin keberlanjutan peningkatan arus wisatawan.
Ini menandakan adanya persoalan struktural yang lebih dalam daripada sekadar agenda tahunan. Dan untuk itu perlu dikulik bersama secara detail dan mendalam apa akar masalahnya.
Refleksi ini mengarah pada satu kesimpulan awal (mungkin saja kesimpulan ini premature?): Bahwa pariwisata tidak bisa bertumpu hanya pada event semata. Mungkin juga tidak hanya pada sekedar persoalan : Attaraction, Accessibility, Amenities. Dan yang tak kalah penting adalah kebersihan, penataan kawasan, keramahan layanan, keterlibatan dan kedisplinan masyarakat, hingga konsistensi promosi, menjadi faktor penentu apakah wisatawan akan datang, bertahan, dan datang kembali sembari mengajak teman. Ketika salah satu mata rantai ini rapuh, daya tarik sebesar apapun akan kehilangan gaungnya.
Kesadaran akan tren penurunan ini sejatinya telah disampaikan Pemkab Toba kepada Wamenpar RI Ni Luh Puspa pada 11 Juli 2025 ketika berkunjung ke Pantai Bulbul Balige. Dalam kunjungan tersebut, Wamenpar memuji keindahan Pantai Bulbul Balige, namun sekaligus menegaskan perlunya penataan ulang yang diawali diskusi bersama masyarakat dan pemerintah setempat.
Pernyataan ini menyiratkan pesan betapa: potensi alam dan budaya Toba tidak diragukan, tetapi pengelolaannya membutuhkan keseriusan, kolaborasi, dan keberanian untuk berbenah.
Pemkab Toba telah menyatakan komitmen menindaklanjuti arahan tersebut agar Pantai Bulbul dan destinasi lainnya yang ada di Kabupaten Toba yang lumayan banyak itu bisa kembali menjadi destinasi yang membanggakan. Yah….sedapatnya bisa kembali ke angka 2 jutaan bahkan lebih pengunjung dalam setahun.
Namun tulisan refleksi akhir tahun ini menuntut pertanyaan yang lebih mendasar: sudahkah evaluasi menyeluruh benar-benar dilakukan? Apakah penyebab penurunan kunjungan wisatawan telah dipahami secara utuh. Dan apakah pemahaman penyebabnya tersebut berbasis data dan fakta yang akurat dan jujur? Ataukah persoalan ini masih dibiarkan samar, tertutup oleh optimisme administratif semata?
Jika evaluasi hanya berhenti pada wacana, maka target mengembalikan kunjungan wisata ke level 2 jutaan seperti 2023 akan tinggal mimpi. Sudah saatnya seluruh stakeholder: pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, pegiat wisata lainnya dan dinas terkait duduk bersama, bukan untuk saling menuding dan saling menyalahkan. Tetapi untuk munumbuhkan kesadaran bersama dan merumuskan ulang dan melakukan kolaborasi luas untuk merumuskan dan melakukan bersama ke arah mana pariwisata Toba ke depan agar lebih baik.
Tanpa itu, pengembangan wisata di tahun-tahun mendatang berisiko menjadi ilusi yang berulang. Sementara potensi besar tempat wisata Kabupaten Toba seperti ucapan Wamenpar Ni Luh Puspa begitu menjanjikan, maka yang dibutuhkan kembali adalah kesadaran bersama, kesungguhan semua pihak terkait agar potensi besar itu jangan sia-sia belaka.
Atau kita hanya sekedar menunggu potensi wisata alam dan budaya Toba itu kelak berkembang sendiri tetapi entah kapan sungguh-sungguh hidup dan dihidupi hingga bisa menghidupi ekonomi Kabupaten Toba?. Horas.
Palipi, Desa Dalihan Natolu,Kec.Silaen-Toba 30.12.25
#(M Tansiswo Siagian)#












