ANTARANEWS86.com_, MADINA, Sementara lumpur masih menutup jalan, rumah-rumah warga hancur, dan anak-anak mulai terserang gatal serta demam, tim Puskesmas Simpang Gambir di bawah kepemimpinan Linawati SKM, MKM justru menjadi pihak pertama yang benar-benar hadir untuk rakyat pada Sabtu (29/11/2025). Mereka turun langsung ke Desa Parbatasan, memberikan pengobatan gratis di tengah kondisi yang jauh dari kata layak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang menguatkan warga hanyalah kehadiran para tenaga kesehatan dan Babinsa Koramil 16/BTN — Peltu M.Arifin Lubis, Sertu Kholis Nasution, dan Sertu Lukman Harun Lubis, — yang ikut mendampingi dan menjaga pelayanan. Mereka bekerja tanpa sorotan kamera, tanpa panggung, tanpa janji-janji politik.
Sementara itu, pemerintah daerah justru dipertanyakan kesiapannya. Banjir telah berlangsung beberapa hari, namun tidak terlihat adanya posko terpadu berskala kabupaten, tidak ada mobil kesehatan tambahan, tidak ada langkah cepat yang mencerminkan status darurat. Warga hanya mengandalkan tenaga medis yang datang dengan segala keterbatasan.
“Kami sangat membutuhkan bantuan obat, air bersih, dan tenaga tambahan. Warga sudah mulai sakit,” ungkap Linawati di tengah pelayanan, di mana puluhan warga terlihat antri, sebagian anak-anak tampak pucat dan batuk-batuk.
Kepala Desa Zamharuddin Nasution, yang menyambut kedatangan tim, tidak mampu menutup keprihatinannya. “Warga kami sedang dalam keadaan berat. Kami berharap pemerintah kabupaten tidak hanya melihat laporan, tapi datang sendiri melihat kondisi nyata,” ujarnya dengan nada tegas.
Kekecewaan warga semakin kuat. Mereka merasa seolah dibiarkan bertahan sendiri, padahal Lingga Bayu adalah bagian dari Kabupaten Mandailing Natal yang seharusnya mendapatkan perhatian penuh di situasi bencana.
Beberapa warga bahkan menyuarakan kritik keras: “Kalau untuk kampanye cepat datang. Tapi untuk rakyat yang tenggelam banjir, kok lambat?”Kalimat itu mencerminkan rasa sakit sekaligus kemarahan masyarakat.
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat menilai pemerintah harus bergerak lebih cepat daripada air yang menghanyutkan rumah warga. Bukan hanya rapat, bukan hanya koordinasi—tetapi kehadiran nyata di lapangan.
Kegiatan pengobatan dari Puskesmas Simpang Gambir dan Babinsa menjadi bukti bahwa ada aparat yang memilih bekerja di tengah lumpur, bukan hanya di balik meja rapat.
Warga menunggu langkah cepat pemerintah. Bukan besok. Hari ini. Sekarang. Sebelum penyakit pasca banjir menjadi bencana kedua yang lebih mematikan.
(M.SN)#












